25 Mei 2009

Pembukaan Lanah UI - Depok

Alhamdulillah satu lagi lanah (tempat latihan) baru dibuka di UI - Depok. Silakan bagi tamid atau yang ingin belajar Thifan Po Khan di daerah Depok untuk bergabung.

Alamat lengkap :
UI Depok
Halaman Belakang Balairung
Contact Person : Slamet Syahril (0811867133), Herman (081319626630)
Waktu latihan : Ahad, pukul : 08 - selesai

Tulisan yang di penggal/di sembunyikan

[+/-] Selengkapnya...

08 Mei 2009

Kehebatan Peralatan Perang Tentara Muslim


Pasukan tentara Muslim pada era keemasan Islam dikenal sangat tangguh dan kuat. Tak heran jika kekuatan pasukan tentara Islam sangat disegani lawan dan ditakuti lawan. Risalah kemiliteran berbahasa Arab mencatat, pasukan militer Muslim sempat meraih dua kesuksesan terbesar dalam sejarah peradaban Islam.

Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya bertajuk Islamic Technology: An Illustrated History mengungkapkan, sebelum Dinasti Usmani Turki menjadi adikuasa dunia, tentara Muslim di era kejayaan Islam sempat meraih dua kemenangan terbesar dalam sejarah, yakni penaklukan Arab pada abad ke-7 M atau abad satu Hijriah serta kemenangan pasukan tentara Dinasti Ayyubiya dan Mamluk pada abad ke-12 dan ke-7 M.

Salah satu faktor penting yang membuat pasukan tentara Muslim begitu kuat dan hebat, karena ditopang dengan persenjataan yang lengkap dan canggih pada zamannya seperti pedang, tombak, panah, perisai dan tongkat kebesaran.

Pedang
Pedang merupakan senjata utama serdadu Muslim, baik infanteri maupun kavaleri. Pedang digunakan untuk pertahanan pribadi, adu pedang dan pertempuran tunggal. Pedang merupakan salah satu senjata yang paling dihormati bahkan seringkali diberi nama.


"Kami mempunyai beberapa catatan mengenai hal ini dari periode awal Islam. Tetapi masih belum bisa diidentifikasi adanya sejenis pedang khas Islam, karena panjang, bentuk dan konstruksinya berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain," tutur al-Hassan Hill.

Menurut al-Hassan, dahulu di Semenanjung Arab, panjang pedang menjadi salah satu tanda pengenal anggota suku. Salah satu jenis pedang ternama bernama Scimitar lengkung. Pedang ini kerap kali disebut sebagai senjata khas Umat Muslim. Dalam manuskrip Arab tertulis bahwa pedang ini muncul belakangan.

" Pedang itu diperkirakan pertama kali dipakai pada abad ke-8 H atau ke-14 M, waktu pastinya tidak diketahui," kata al-Hassan dan Hill. Selain itu, juga dikenal pedang lurus Abbasiyah, yang pada bilahnya tertulis tanggal pada abad ke-9 M, merupakan jenis pedang yang paling banyak digunakan di negeri-negeri Islam pada abad pertengahan.

Pedang ini juga banyak dicontohkan dalam ilustrasi-ilustrasi dan dipamerkan di museum-musem, salah satunya di Topkapi Sarayi Muzesi, Istanbul. Al-Hassan dan Hill menjelaskan bilah pedang (nasl) mempunyai satu sisi yang tajam (syafra), melengkung sepanjang satu rentangan (sekitar 22 sentimeter) ke bagian ujungnya (dhu'aba).

Bagian yang melengkung itu disebut midrab (dada), karena bagian ini yang digunakan untuk menyerang lawan. Sedangkan bagian punggung (matn) kadang-kadang sedikit melengkung ke arah midrab (dada). Sedangkan, pangkal pedang yang dalam bahasa Arab disebut maqbid atau nasab mempunyai kepala atau ujung berbentuk bola (saylan) dan sebuah bentukan melintang (kulab), pangkal pedang terbuat dari baja, gading, kayu hitam (ebony) atau bahan-bahan keras lainnya.

Tombak (rumh)
Selain pedang, senjata utama pasukan tentara Muslim adalah tombak. Menurut al-Hassan, tombak merupakan alat perang yang sangat banyak digunakan di dunia Islam. Salah satunya tombak dengan kepala yang berukir dari Persia sekitar abad ke-8 M. Tombak iitu, kini berada di Museum Victoria dan Albert, London.

''Tombak merupakan alternatif pengganti pedang karena harganya relatif lebih murah dibanding pedang,'' tutur al-Hassan. Tombak bisa dibuat dengan memasang kepala tombak yang terbuat dari besi pada sebuah tongkat dari batang pohon.

Namun, ada tombak yang harganya mahal, yakni tombak panjang dari kayu yang bermutu tinggi, dengan kepala tombak yang terbuat dari baja Damaskus. ''Batang-batang tombaknya terbuat dari bambu. Tombak ini diberi nama qanat. Namun, karena harganya yang mahal, masyarakat kelas bawah tak mampu membelinya,'' ungkap al-Hassan.

Al-Hassan menjelaskan, panjang sebuah tombak bervariasi. Paling pendek tak lebih dari dua meter dan yang paling panjang sekitar tujuh meter atau lebih. Tombak memiliki beberapa bagian utama yang terdiri dari batang (matn), kepala (sinan) dengan rongga (tsa'laba) untuk memasukkan tongkat, dan penutup dari logam (zujj) di ujung bawah batang.

"Instruksi tertulis pemakaian tombak disusun oleh beberapa ahli furusiyya pada zaman Mamluk, dengan judul kolektif bunud (tunggal: band)," kata al-Hassan dan Hill. Menurut dia, Najm Al-Din meringkas aturan-aturan penyerangan dalam 72 bunud. Ia menjelaskannya secara terperinci bagaimana cara memegang dan memiringkan tombak ketika menyerang lawan.

Pasukan tentara Muslim juga biasa menggunakan sejumlah alat perang lainnya, seperti Javelin, yakni sejenis tombak ringan yang dilempar. Tombak ini merupakan tombak yang biasa dipakai dalam olahraga lempar lembing, namun terkadang juga digunakan sebagai misil.

Selanjutnya ada pisau (khanjar), yang biasanya disimpan pasukan tentara Muslim di pinggang atau di balik pakaian.Selain itu, adapula dua macam perisai, yakni daraqa yang terbuat dari kulit binatang dan kayu atau logam turs. Dan terakhir tongkat kebesaran yang terbuat dari besi atau baja dengan ujung berbentuk kubus, diletakkan di bawah sanggurdi.

Kehebatan Panah Tentara Islam

Para pembesar Muslim, banyak menggunakan panah, dan mereka sangat handal menggunakannya. Berkat keandalannya dalam membidik dan memanah, mereka pun menjadi tersohor. Dalam dunia Islam, papar al-Hassan, mereka yang menggunakan panah dalam perang mendapatkan penghormatan tinggi.

Tak hanya itu, para perajin panah, busur dan perlengkapan penunjangnya juga sangat dihormati. "Inilah yang membedakan seni memanah Islam dengan Barat," kata al-Hassan dan Hill.

Menurut al-Hassan, Pasukan Muslim menggunakan dua jenis panah, yakni panah kayu dan panah komposit. Panah komposit merupakan tipe standar dalam ketentaraan Muslim sejak awal penaklukan hingga masa Renesans dan seterusnmya. Panah jenis ini mempunyai sejarah yang panjang dan telah dikenal sejak zaman Mesir Kuno.

Al-Hassan memperkirakan, senjata ini menyusup ke gudang senjata Islam pada saat penaklukan Sassaniyyah Iran. Bentuk panah selalu berubah seiring dengan waktu dan perubahan daerah pembuatan, namun panah komposit Mamluk Syria pada abad ke-14 M merupakan jenis panah paling umum yang digunakan sebagai senjata ampuh pasukan kerajaan Ayyubiyah dan Mamluk.

Sebelum ditemukannya senjata api, panah merupakan alat perang yang sangat berguna dan dijamin sangat mematikan. Untuk itu, dibutuhkan keterampilan dalam pembuatannya. Dalam panah terdapat busur yang terdiri dari bagian inti yang terbuat dari kayu, diperkuat dengan tanduk pada sisi yang menghadap ke pemanah dan lapisan luarnya terbuat dari tali urat.

Busur memiliki sifat refleks, yakni arah lengkungannya sebelum direnggangkan berlawan dengan arahnya setelah peregangan. Ketika diikat, busur itu secara langsung mendapat tekanan dari tali urat dan tanduk sehingga menambah tenaga cukup besar pada senjata itu. Sedangkan senar busur biasanya terbuat dari sutra.

Menurut al-Hassan dan Hill, pada era keemasan Islam anak panah terbuat dari buluh atau kayu. Namun, bahan buluhlah yang paling banyak disukai. Bagian kepalanya dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran tergantung tujuan penggunaan. Sedangkan bagian ekor, biasanya dibuat cukup kecil untuk mengurangi gesekan dengan udara, yang terbuat dari bulu burung pemangsa seperti elang.

Peralatan penunjang lainnya adalah kantong anak panah (ja'aba atau kirana) dan cincin-ibuj ari yang digunakan untuk menarik panah. Senjata ini memiliki daya jangkau lebih dari 500 meter dan dapat menembus baju besi dari jarak 150 meter, jika anak panah dipasangi kepala berbentuk penampang segitiga.

Penggunaan senapan panah (crossbow) atau dalam bahasa arab disebut qaws al-rijl atau zanburak dalam bahasa Persia dan Turki, belum tersebar luas dalam dunia Islam hingga abad ke-6 H atau ke-12 M. Senaata ini lebih cocok untuk digunakan pada medan pertempuran.

Pada akhir abad pertengahan, orang-orang Muslim Spanyol lebih menyukai senjata ini. Salah satu tipenya mempunyai sanggurdi di ujung batangnya, kaki diletakkan pada sanggurdi dan senarnya ditarik dengan sebuah pengait. She. www.republika.co.id

[+/-] Selengkapnya...

06 Mei 2009

Bahaya Kerja Larut dan Shift Malam Bagi Tubuh


Bekerja lebih dari 55 jam perminggu dan pekerja shift malam memiliki resiko gangguan mental dan kesehatan lebih besar.

JAKARTA - Bagi anda yang bekerja lebih dari 40 jam perhari, hingga larut malam, atau pekerja shift malam sebaiknya lebih waspada. Orang-orang yang bekerja keras di atas standar 40 jam perminggu memiliki tingkat kemungkinan penurunan mental lebih tinggi di usia paruh baya, demikian menurut hasil studi terbaru. Sementara para pekerja giliran malam memiliki resiko lebih besar dalam kecelakaan, gangguan tidur, hingga masalah pencernaan.

Peneliti menemukan di antara lebih dari 2.200 pekerja pemerintahan di Inggris, bekerja dalam waktu lama memiliki kaitan performa buruk pada tes fungsi kognisi, termasuk penurunan mental bertahap secara akut sejalan waktu.

Riset yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, 1 Maret 2009 itu membandingkan para subjek dengan waktu kerja 55 jam lebih perminggu dengan kelompok pria dan wanita yang bekerja dalam rentang 35 -40 jam perminggu. Ternyata kelompok yang lebih dari 40 jam perminggu menunjukkan penurunan kemampuan beralasan terstruktur, dalam lima tahun sesudahnya.


Namun Marianna Virtanen, pemimpin penelitian sekaligus doktor dari Finnish Institute of Occupational Health di Helsinki masih menyatakan kemungkinan ada faktor tak terukur lain yang mengaitkan antara bekerja dalam waktu lama dengan fungsi kognisi lemah.

Bahkan jika ada "efek nyata", menurut Mariannne, penurunan terhubung dengan bekerja dalam waktu lama tidak terlampau kuat.

Penemuan itu sendiri merupakan hasil penelitian yang dilakukan lima tahun kepada 2.214 subjek kelas pekerja berusia menengah. Pada awal dan akhir periode riset, para subjek karyawan diminta melengkapi lima tes standar fungsi kognitif.

Secara umum, pekerja menghabiskan waktu 55 jam-hingga-lebih perminggu mendapat skor lebih rendah dalam satu tes yaitu tes kosakata, baik dalam awal maupun akhir riset. Mereka juga menunjukkan tanda-tanda penurunan dalam tes aliran kecerdasan, yang berhubungan dengan kemampuan seseorang berargumen terstruktur dan memecahkan masalah.

Mereka yang bekerja berjam-jam lamanya juga cenderung memiliki tingkat stress tinggi, gangguan tidur, dan minum alkohol lebih banyak ketimbang rekan mereka yang bekerja dalam waktu standar.

Sementara bagi para pekerja giliran malam, masalah timbul pada kebiasaan tubuh. Memang, pekerja malam mengakali dengan tidur di pagi hingga siang hari untuk mengganti kebutuhan tidur 8 jam perhari. Masalahnya, tubuh harus dibuat melawan siklus alami yakni bekerja berdasar cahaya terang dan beristirahat saat gelap malam.

Bukti dari para ahli menunjukkan pengalihan jam tubuh alami mempengaruhi ritme jantung, sehingga memicu perubahan hormonal dan metabolisme. Pengalihan itu ternyata meningkatkan resiko obesitas, diabetes, hingga penyakit jantung. Laporan penuh dari riset terpisah atas shift-malam itu telah dipublikasikan dalam antologi kumpulan penelitian National Academy of Sciences.

Peneliti yang melaporkan menekankan 8,6 juta pekerja malam di Amerika Serikat (AS) termasuk pekerja pabrik, rumah sakit, polisi, pemadam kebakaran, pilot, kru jalan raya, media, dan pengemudi truk. Giliran-malam, dalam definisi National Sleep Foundation di AS adalah tipe jadwal yang berada di luar standar jam bisnis normal nine-to-five.

"Dalam jangka lama, efek psikologis giliran malam ditandai beberapa gejala termasuk pada berat badan, gangguan insulin, dan kortisol, terlihat berkontribusi meningkatkan resiko diabetes, penyakit jantung, dan obesitas, " ujar pimpinan riset, Frank Scheer,instruktur obat-obatan di divisi obat tidur, Rumah Sakit Wanita Brigham dan Kedokteran Havard

Dalam tes, para ahli melakukan tes laboratorium menyetimulus efek jet lag (atau efek berkepanjangan pada kerja malam). Partisipan dalam riset tersebut adalah lima pria dan lima wanita yang mengikuti jadwal perubahan tidur dan pola makan hingga delapan hari. Selama periode tersebut, semua partisipan makan dan tidur dalam fase siklus istirahat dan penyerapan yang didesain dengan diikuti jadwal kerja.

Hasilnya, riset mengungkapkan jika interupsi terhadap jadwal tubuh alami menyebabkan penurunan leptin, hormon yang mengatur berat badan. Menurut para ahli, penurunan kadar leptin dapat mengakibatkan peningkatan selera makan dua kali lipat, dengan aktivitas tak terlalu banyak tentu akan mempercepat kegemukan hingga obesitas. Sebagai tambahan, riset juga menunjukkan terjadinya perubahan kadar gula darah dan tingkat insulin yang menghasilkan toleransi melemah terhadap glukosa. Itu artinya mengurangi sensitifitas insulin.

Padahal, fakta dalam riset, para partisipan yang mengikuti penelitian tidak pernah memiliki riwayat diabetes sebelumnya. Namun setelah mengikuti sejumlah tes jadwal kerja malam, tubuh mereka mulai membentuk kadar glukosa mirip seperti pada pasien diabetes juga peningkatan tekanan darah.

Puncak perubahan hormon tersebut ditandai ketika jadwal partisipan benar-benar berada 12 jam penuh diluar siklus istirahat-aktivitas alami manusia--yakni jadwal dimana tubuh alami seharusnya tidur tapi mereka tetap terjaga sepanjang malam.

Frank sendiri memang tidak terburu-buru menganggap hasil penelitian adalah mutlak. Ia mengaku masih membutuhkan studi lebih lanjut, terlebih waktu riset pun tidak cukup panjang. "Kami masih belum tahu dampak jangka panjang kerja giliran malam terhadap hidup karyawan kedepan," ujarnya.

"Karena kerja giliran malam seringkali mempengaruhi tingkat kewaspadaan dan fungsi Gastro Intestinal sesorang, dan mereka yang tidak mampu mengatasi kondisi itu dengan baik, bakal mengalami penurunan kondisi tubuh dan mental drastis. Artinya pula, mereka yang bertahan melakukan pekerjaan malam mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh masalah-masalah tersebut dan tak terlalu sensitif dengan perubahan jam tubuh alami. Itulah pertanyaan kedepan nanti," papar Frank./reuters/healt.com/itz/www.republika.co.id

[+/-] Selengkapnya...

17 April 2009

Tawe dalam Turgul

Setelah mengulas tentang tawe dan proses terbentuknya, pada tulisan ini penulis mencoba mengulas korelasi tawe dengan turgul. Apakah semakin bertambah banyak tawe yang dimiliki akan berdampak positif terhadap kemampuan turgul? Pertanyaan ini cukup sering ditanyakan oleh tamid karena mereka merasa sulitnya mengaplikasikan tawe dalam turgul. Sehingga yang terjadi kemampuan turgul tamid dari tingkat ke tingkat berikutnya tidak mengalami kenaikan kualitas secara significant. Bahkan boleh dikatakan cukup stagnant karena tidak munculnya variasi teknik turgul yang berasal dari aplikasi tawe.

Kondisi di atas terkadang menimbulkan beban tersendiri bagi sebagian tamid. Untuk apa saya naik tingkat? Toh hanya akan menambah beban hapalan tawe yang harus dipelajari, manfaat yang didapat tidak sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan. Karena untuk naik ke jenjang berikutnya memerlukan perjuangan cukup berat baik secara fisik, mental dan materi tentunya. Akhirnya muncul kekhawatiran bahwa tingkat yang berbeda hanya membedakan jumlah koleksi tawe yang berbeda.

Setujukah kita dengan pernyataan bahwa perbedaan tingkat hanya membedakan jumlah materi/ tawe yang dikoleksi ? Pada uraian di bawah ini penulis mencoba membahas sesuai dengan kemampuan penulis (tamid) yang masih sangat terbatas, berdasarkan bukti tertulis, pengamatan maupun bukti empiris (berdasar pengalaman).


Pertama. Berdasarkan bukti tertulis
Kitab Zhodam memaparkan contoh nyata kemampuan para generasi awal yang mampu mengaplikasi tawe dalam turgul sehingga mampu mengalahkan lawan yang sangat tangguh dengan cara yang sangat efektif. Kemampuan ini terasah dari latihan yang terstruktur yang bersumber pada kitab Thifan Po Khan yang telah membagi tingkatan secara proposional. Tiap tingkatan berisi tawe dan materi lainnya yang disususun secara sistematis sehingga akan menghasilkan kenaikan kualitas. Hal ini tentu harus dikaitkan dengan target yang sudah ditentukan dalam setiap tingkatannya. Misalnya pada tingkatan dua, pelewat harus secepat kilat menyambar, tingkatan lain disebutkan serangan harus lebih cepat dari serangan lawan dan seterusnya.


Kedua, berdasarkan pengamatan
Penulis mengamati, tiap tawe yang diajarkan pada tiap kenaikan tingkat mengandung peningkatan kualitas dan kuantitas teknik yang diajarkan. Semakin banyak variasi teknik yang dapat digunakan untuk turgul, baik dalam bentuk serangan, tangkisan, hindaran dan lain-lain. Dari segi kualitaspun semakin bertambah karena terdapat bentuk-bentuk teknik yang semakin efisien untuk berturgul. Berdasarkan pengamatan banyak tamid yang tidak berkembang dalam aplikasi tawe turgul disebabkan karena tawe baru sekedar dihapal. Hapalan yang dimilikipun belum masuk ke dalam memori otak terdalam, sehingga ketika berturgul rangkaian tawe tersebut terlupakan. Tawe semestinya masuk dalam memori otak terdalam sehingga keluar menjadi bagian dari gerak reflek. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dalam berturgul tamid langsung melakukan gerakan keras sehingga takut mencoba tawe atau gerakan yang baru. Khawatir akan terkena serangan lawan atau khawatir serangan tidak optimal karena masih dalam tahap mencoba. Perlu kiranya dalam berlatih turgul tidak langsung menggunakan gerakan keras, tetapi bertahap untuk mencoba mengaplikasikan tawe.

Ketiga, berdasar pengalaman

Mencoba tawe dalam turgul bayangan, mencoba dan mematangkan gerak sehingga menjadikan gerak tawe lebih bermakna. Lebih dari hanya sekedar rangkaian gerak tarian, tetapi berupa rangkaian teknik yang handal. Untuk mendapatkan hasil yang optimal tentu mesti memperhatikan dan mempraktekkan semua arahan yang pembimbing sampaikan. Dijalankan dengan sabar, disiplin, istiqomah dan istimrar. (bro)

[+/-] Selengkapnya...

30 Maret 2009

Jurus (tawe)


Jurus merupakan istilah umum dalam beladiri. Arti bebas dari jurus adalah rangkaian gerak yang bermuatan teknik untuk beladiri ataupun pertarungan. Tiap beladiri hampir bisa dipastikan mempunyai jurus yang berbeda. Walaupun terkadang nama jurus sama, tetapi gerakannya bisa jauh berbeda. Misalnya jurus harimau dalam Thifan Po Khan, ternyata sangat beda dengan jurus harimau dalam beladiri lain.

Dari manakan jurus itu berasal ? Apakah jurus dibuat hanya berdasarkan bayangan akan gerakan tertentu, ataukan berdasarkan pengalaman lapangan ? Tiap beladiri mungkin akan memberikan jawaban yang berbeda. Dalam kitab Thifan Po Khan disebutkan, bahwa jurus berasal dari pengamatan akan gerak tertentu yang kemudian dikaji secara khusus. Hasil kajian kemudian diaplikasikan dalam pertarungan. Hasil dari pertarungan akan dievaluasi kembali serta disempurnakan sehingga menjadi jurus yang baku. Misalnya jurus Petik Anggrek di Pohon Tie, jurus ini merupakan pengamatan dari pendekar Namsuit ketika memperhatikan teknik memetik anggrek, gerak ini kemudian dikaji, dipraktekkan kemudian dijadikan jurus baku. Berdasar uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa jurus adalah rangkaian gerak yang sangat bermanfaat untuk pertarungan, baik sebagai teknik penyerangan, hindaran maupun pertahanan.


Jurus; banyak atau sedikit

Tiap beladiri memiliki jurus yang berbeda, baik jumlah maupun geraknya. Ada beladiri yang memiliki 7 jurus, 12 jurus, 40 jurus dan bahkan tidak sedikit yang memiki ratusan jurus. Mengapa jurus bisa sedikit atau banyak? Jawaban pertanyaan ini sangat relatif, karena tiap beladiri mempunyai alasan tersendiri. Tetapi penulis mempunyai pandangan yang berdasarkan pengamatan bahwa banyaknya jurus ditentukan oleh beberapa hal.

Pertama. Variasi penggunaan anggota tubuh.
Dalam Thfian Po Khan, seluruh anggota tubuh merupakan senjata. Kalau didiperhatikan jurus yang menggunakan tangan, maka kita akan dapati penggunaan jari tangan, cakar, kepal buku, genggaman, punggung tangan, telapak tangan, sisi tangan, sikut, bahu dan seterusnya. Belum lagi apabila kita membicarakan penggunaan kaki, variasi tendangan, dan lain sebagainya. Sehingga dari masing-masing anggota tubuh akan melahirkan banyak variasi jurus.

Kedua. Teknik.
Perbedaan teknik penyerangan, pertahanan dan hindaran tentu saja akan semakin memperkaya jurus. Jurus akan semakin variatif dan lengkap. Jurus akan dapat mengantisipasi bentuk serangan dalam kondisi apapun, jarak dekat, pendek maupun jauh, dapat menghindar dalam bentuk serangan sesulit apapun dan seterusnya. Bahkan ketika salah satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh yang lain tetap dapat dimanfaatkan untuk bertarung dengan optimal.

Ketiga. Seni.
Jurus selain merupakan teknik juga merupakan seni. Tentu saja yang dimaksud adalah seni beladiri. Jurus akan terlihat lebih indah tetapi tetap sarat dengan kandungan teknik. Misalnya saja ketika seseorang menyerang luruh kedepan, maka dapat dengan mudah dilakukan tangkisan dan serangan mematikan dengan gerak cepat ke arah yang mematikan. Tetapi ada kalanya bahwa tidak semua musuh harus dilawan dengan cara mematikan. Cukuplah musuh dikalahkan dengan dijatuhkan, dibuat kelelahan atau hanya sekedar menjatuhkan senjata yang yang dipegang. Cara seperti ini sering dilakukan oleh para pendekar Thifan Po Khan yang terdahulu ketika menghadapi musuh, mereka sering hanya merampas senjata atau membuat lawan kelelahan dan akhirnya menyerahkan diri. Teknik ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan dakwah Islam pada masa itu. Selain itu, kehalusan jurus juga mencerminkan perilaku dari pemegang jurusnya, semakin halus dan berseni jurus maka akan semakin halus jiwa dan perilaku seseorang. Karena beladiri tidak menciptakan orang yang bertabiat kasar dan keras, tetapi pendekar yang bermental ksatria, andap ashor tidak adigang adigung adiguno (baik hati, tidak sombong dan rendah diri) – (hb)

[+/-] Selengkapnya...